Minggu, 15 Mei 2016

Fungsi Manajemen

Fungsi Manajemen
 
 





Disusun Oleh :
Nama : Beta Andresa
Nim : 2015210029
Kelas : 1 B
Mata Kuliah : Pengantar Manajemen
Dosen Pengasuh    : Sebri Hesinto, SE, M.Si
Sistem Informasi
STMIK Prabumulih
Yayasan Pendidikan Prabumulih
Tahun Akademik 2015 / 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas rahmat Allah SWT yang telah menganugrahkan kepada kita kesehatan badan, iman, dan pikiran. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul Makalah Fungsi Manajemen“
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman masalah fungsi manajemen. Makalah ini juga dibuat untuk mengikuti mata kuliah “ Pengantar Manajemen ” dengan Dosen Pembimbing Bapak Sebri Hesinto, SE.,M.Si.
 Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai fungsi manajemen bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang.
Demikianlah makalah yang bisa saya buat, terima kasih kepada Bapak Sebri Hesinto, SE.,M.Si dan rekan rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyelesaian tugas makalah ini.

Prabumulih, 09 Januari 2016
Penulis

Beta Andresa
Nim : 2015210029



DAFTAR ISI



































BAB 1

 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno “management”, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur”. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker F
ollet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Manajemen juga memiliki fungsi-fungsi, yaitu planning, organizing, staffing, directing, coordinating, budgeting, dan evaluating.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka kami mengangkat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi dari planning /perencanaan ?
2.      Apa definisi dari organizing / pengorganisasian ?
3.      Apa definisi dari penataan staf ?
4.      Apa definisi dari pengawasan ?
5.      Apa definisi dari kepemimpinan?

1.3  Tujuan Penulisan

Berdasarkan beberapa rumusan masalah tersebut, maka dapat disimpulkan tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui definisi dari planning / perencanaan
2.      Dapat mengetahui definisi dari organizing / pengorganisasian
3.      Dapat mengetahui definisi dari penataan staf
4.      Dapat mengetahui definisi dari controlling / pengawasan
5.      Dapat mengetahui definisi dari kepemimpinan

BAB II

PEMBAHASAN

Secara umum, ada lima fungsi manajemen diantaranya sebagai berikut :

2.1 Perencanaan / planning

 2.1.1 Definisi Perencanaan Beberapa Arti Perencanaan Menurut Para Ahli :

a.       Garth N.Jone, Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pengembanngan dari pada tindakan yang paling baik untuk pencapaian tugas.
b.      M.Farland, Perencanan adalah suatu fungsi dimana pimpinan kemungkinan mengunakan sebagian pengaruhnya untuk mengubah daripada wewenangnya.
c.       Abdulrachman (1973), Perencanaan adalah pemikiran rasional berdasarkan fakta-fakta dan atau perkiraan yang mendekat (estimate) sebagai persiapan untuk melaksanakan tindakan-tindakan kemudian.
d.      Siagian (1994), Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penetuan secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian yang telah ditentukan.
e.       Terry (1975), Perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan fakta-fakta, membuat serta menggunakan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu.
f.        Kusmiadi (1995), Perencanaan adalah proses dasar yang kita gunakan untuk 4 memilih tujuan-tujuan dan menguraikan bagaimana cara pencapainnya.
g.      Soekartawi (2000), Perencanaan adalah pemilihan alternatif atau pengalokasian berbagai sumber daya yang tersedia.
 Perencanaan secara garis besar diartikan sebagai proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkann rencana aktivitas kerja organisasi.
 Rencana dapat berupa rencana informal atau secara formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu.

2.1.2  Unsur – Unsur Perencanaan

Perencanaan yang baik harus dapat menjawab enam pertanyaan yang disebut sebagai unsur-unsur perencanaan :
  1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
  2.  Mengapa tindakan tersebut harus dilakukan ?
  3. Dimana tindakan tersebut dilakukan ?
  4. Kapan tindakan tersebut dilakukan ?
  5. Siapa yang akan melakukan tindakan tersebut ?
  6. Bagaimana cara melaksanakan tindakan tersebut ?

 2.1.3 Tahap Dasar Perencanaan

            Ada Empat Tahap Dasar Perencanaan:
a.       Menetapkan Tujuan atau serangkaian tujuan
b.      Merumuskan keadaan pemahaman akan sisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber dayasumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan.
c.       Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
d.      Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

2.1.4  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan

Ada factor-faktor yang dapat mempengaruhi perencanaan, salah satunya adalah factor waktu dan perencanaan. Factor waktu dan perencanaan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perencanaan dalam tiga hal, yaitu:
1.    Waktu sangat diperlukan untuk melaksanakan perencanaan efektif.
2.    Waktu sering diperlukan untuk melanjutkan setiap langkah perencanaan.
3.    Jumlah waktu yang akan dicakup dalam rencana harus dipertimbangkan.



2.1.5  Tujuan Perencanaan.

Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan banyak tujuan perencanaan.
  1. Untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi
  2. Untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.
  3. Untuk meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan.
  4. Untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya.

2.1.6  Keuntungan Perencanaan :

1.    Fokus dan fleksiblitas Fokus : Mengetahui apa yang terbaik , mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana melayani pelanggan.
2.    Fleksibelitas : Beroperasi dan punya pandangan kedepan

 2.1.7  Dasar-Dasar Perencanaan yang Baik

1. Forecasting proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
 a. forecasting kualitatif: prediksi masa depannya menggunakan pendapat para ahli
 b. forecasting kuantitatif: prediksi masa depannya menggunakan analisa data secara matematis dan statistis (analisa time series, model ekonometri, survey statistik)
2.  Penggunaan scenario meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang atau keadaan peristiwa yang mungkin terjadi. Pengidentifikasian kemungkinan skenario yang berbeda waktunya akan membantu organisasi beroperasi lebih fleksibel dalam lingkungan yang dinamis.
 3. Benchmarking perbandingan eksternal untuk mengevaluasi secara  kinerja dan menentukan kemungkinana tindakan yangèlebih baik suatu arus dilakukan untuk masa yang akan datang.
4. Partisipasi dan keterlibatan perencanaan partisipatif yang aktif: perencanaan di al organisasi merupakan bagian awal dari proses penyusunan perencanaan.

2.1.8  Aspek penetapan tujuan dan prioritas

Berbagai aspek yang harus diperhatikan di dalam penetapan tujan dan prioritas meliputi :
1.    Skala Prioritas Tujuan Yang dimaskud skala prioritas adalah urutan kepentingan dari tertinggi sampai terendah. Skala prioritas memegang peranan yangsangat penting sebab skala prioritas ini akan memberikan perhatian yang penuh bagi manajer didalam mengalokasikan sumber daya yang ada sehingga yang diutamakan adalah yang mempunyai prioritas utama (terpenting). Skala prioritas tujuan organisasi menunjukkan tahapan yang hendak dicapai yang disesuaikan dengan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman organisasi. Karena penetapan skala prioritas merupakan keputusan kebijakan maka umumnya manajer menghadapi kesulitan di dalam merumuskannya. Untuk itu biasanya disusun tim yang akan membahas skala prioritas tersebut. 
2.    Kerangka Waktu Tujuan Di dalam kajian analisis studi gerak dan waktu dijelaskan bahwa setiap setiap gerak membutuhkan waktu dan tindakan merupakan kumpulan gerak sehingga tindakan akan lebih banyak waktu yang diperlukan dibandingkan gerak. Dimensi waktu secara tak langsung merujuk pada aktivitas organisasi yang diarahkan oleh berbagai tujuan yang berbeda dan sangat tergantung kepada durasi (penyelesaian) tidankan yang direncanakan.
3.    Konflik diantara Tujuan Organisasi akan berhubungan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dan berbagai pihak yang berkepentingan atas organisasi mempunyai berbagai otoritas yang berbeda-beda dari mulai lemah sampai yang kuat. Yang kuat mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan dan kinerja prganisasi. Karena benyaknya pihak yang berkepentingan maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik tujuan organisasi. Oleh karena itu, manajemen dituntut untuk membuat keputusan yang bijak agar pihak yang berkepentingan tidak merasa dikecewakan
4.    Mengembangkan Metode Pegawasan Operasi Rencana Meskipun perencanaan berlum dilaksanakan akan tetapi sebaiknya metode pengawasan yang akan dilakukan telah ditetapkan terlebih dahulu. Didalam metode pengaawasan telah dperhitungkan berbagai permasalahan dan kendala di lapangan serta berbagai cara menanggulanginya, jka metode pengawasan tidak dipersiapkan Terlebih dahulu maka terjadi permasalahan atau kendala di lapangan maka metode pegawasannya cenderung kurang sistematis dan cenderung bersifat acak. Pengawasan melibatkan analisis berkelanjutan dan pengukuran operasi aktual terhadap standar yang dikembangkan dan di rumuskan di dalam proses perencanaan.

2.1.9  Manfaat dan  jenis jenis perencanaan

1 .Standar pelaksanaan dan pengawasan
2. Pemilihan berbagai alternave terbaik
3. Penyusunan skala prioritas terbaik sasaran maupun kegiatan
4. Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi
5. Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungn
6. Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait dan
7. Alat meminimimalkan pekerjaan yang tidak pasti


2.2  Pengorganisasian / Organizing

Secara konsep, ada dua batasan yang perlu dikemukakan,yakni istilah ”organizing” sebagai kata benda dan ‘organizing’  (pengorganisasian) sebagai kata kerja, menunjukan pada rangkaian aktivitas yang harus dilakukan secara sistematis. Istilah organisasi memiliki dua arti umum, pertama, mengacu pada suatu lembaga (institution) atau kelompok fungsional, sebagai contoh kita mengacu pada perusahaan, badan pemerintah, rumah sakit, atau suatu perkumpulan olahraga. Dan arti kedua mangacu pada proses pengorganisasian, sebagai salah satu dari fungsi manajemen.
a.     Pengertian Organisasi
Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian: Organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapain tujuan yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan
Sedangkan dalam arti umum organisasi merupakan sekumpulan/sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan untuk bekejasama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab tertentu dalam system koordinasi,  kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.
b.    Pengertian Pengorganisasian
Drs.H. melayu S.P. Hasibuan: adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktifitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan,menempatkan orang-orang pada setiap aktiffitas ini,menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktifitas-aktifitas tersebut.
Sedangkan dalam arti umum pengorganisasian adalah langkah untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh oleh pemimpin kepada staf dalam rangka mencapai tuuan organisasi dalam efisiesi.
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu orang,kerjasama, dan tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi saling kait atau saling berhubungan sehingga merupakan sesuatu kesatuan yang utuh. Adapun unsur-unsur organisasian secara terperinci adalah:
1.    Man (orang-orang) dalam kehidupan organisasi atau ketata lambangan sering disebut dengan istilah pegawai atau personel,pegawai atau personel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi.yang menurut fungsi dan tingktannya terdiri dari unsur-unsur (administator) sebagai unsur pemipin tertinggi dalam organisasi, psrs menejer ysng memimpin sustu umit satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing danpara pekerja (non management/workers). Semua itu secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
2.     Kerjasama, merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.oleh karna itu, semua anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi administator, manajer,dan pekerja (workers) secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
3.    Tujuan, merupakan arah atau sasaran yang dicapain. Tujuan menggambarkan tntang apa yang dicapai atauyang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tetang apa yang harus dicapai melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy). Strategi, anggaran (hudgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
4.    Peralatan (equipment) merupakan unsur yang keempat yaitu peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa materai, mesin-mesin, uang, dan g modal lainnya (tanah,gedung/bangunan’/kantor).
5.    Lingkunagan (environment) faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan tknologi. Yang termasuk dalam unsur lingkunagn:
1.      Kondisi atau situasi, yang secara langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya gerak kehidupan organisasian, karna kondisi atau situasi akan selalu mengalami perubahan.
2.      Tempat atau lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan transportasi yang harus dilakukan oleh organisasi.
3.      Wilayah oprasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi. Wilayah opeasi dibedakan menjadi.
4.      Wilayah kegiatan yang menyangkut jenis kegiatan atau maca kegiatan apa saja yang boleh dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi.
5.      Wilayah jangkauan, atau wilayah geografis atau wilayah teritorial, menyangkut wilayah atau daerah operasi organisasi.
6.      Wilayah personil, menyangkut semua phak (orang-orang,badan-badan) yang mempunyai hubungan dankepentingan dengan organisasi.
7.      Wilayah kewewenangangan atau kekuasaan, menyangkut semua urusan, persoalan, kewajiban tugas, tanggung jawab dan kebijaksanaan yang harus dilakukan dalam batas-batas ditetapapkan dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8.      Kekayaan alam, yang termasuk dalam kekayan alam ini misalya keadaan iklim,udara, air, cuaca (geografis,hidrografi,geologi,klimatologi), flora dan fauna.
2.2.3     Teori Organisasi
Teori organisasi adalah suatu konsep. Pandangan,tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang  pemecahan masalah organisasi sehnga dapat lebih berhasil bahkan pada  gilirannya organisasi dapat mencapain sasan yang ditetapkan, adapun yang dimaksud masalah itu sendiri adalah segala sesuatu yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan.


Secara garis besar ada empat kelompok teori dalam organisasi, yakni teori klasik,teori prilaku, teori sistem, dan teori kontingensi.
1.    Teori organisasi klasik.teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembng mulai tahunn 1800-an (abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Terdapat 3 katagori pokok pendekatan klasik yakni, scientific managenet, administrative management, the bureaucratic model of organization ‘(beach, 1980:133).
2.    Teori human relations, Teori ini disebut juga teori neoklasik, teori hubungan kemanusiaan, teori hubungan antara manusia, teori hubungan kerja manusia atau the human relations theory. Teori ini muncul akibat ketidak puasan dengan teori klasik dan teori ini merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “ pentingnya aspek psikologis dan sosial karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja
3.    Teori organisasi prilaku. Teori ini merupakan suatu teori yang memandang organisasi dari segi prilaku. Teori ini merupakan suatu teori yang memandang organisasi dari segi prilaku anggota organisasi. Teori ini berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil tidaknya organisasi mencapai sasaan yang telah ditetapkan berasal dari para anggotanya.
4.    Teori birokrasi. Pada dasarnya teori organisasi birokrasi menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan, organisasi harus menjalankan strategi sebagai berikut:
a.       Pembagian dan penguasaan pekerjaan secara khusus.
b.      Prinsip hirarki atau bawahan hanya bertanggung jawab kepada atasanya langsung.
c.       Promosi didasarkan pada masa kerja dan prestasi kerja, dan dilindungi dai pemberhentian sewenang-wenang dan prestasi kerja, dan dilindugi dari pemberhentian sewenang-wenang dan yang demikian disebut prinsip loyalitas.
d.      Setiap pekerjaan dilaksanakan secara tidak pilih kasih . strategi ini dinamakan prinsip impersonal.
e.       Tiap-tiap tugas dan pekerjaan dalam organisasi dilaksanakan menurutsistem tertentu berdasarkan kepada data peraturan yang abstrak. Strategi ini dinamakan prinsip uniformitas.
5.    Teori organisasi proses. Teori ini merupakan suatu teori yang memandang organisasi sebagai proses kerjasama formal. Teori ini memandang organisasi dalam arti dinamis, selalu bergerak dan didalamnya terdapat pembagian tugas dan prinsip-prinsip yang bersifat umum (universal).
6.    Teori organisasi kepemimpinan. Teori ini beranggapan bahwa berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuan tergantung sampai berapa jauh seorang pemimpin mampu mempengaruhi bawahan sehingga meraka mampu bekerja dengan semangat yang tinggi dan tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien dan efektif.
7.    Teori organisasi fungsi. Fungsi adalah kelompok tugas atau kegiatan yang harus dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin atau manager guna mencapai tujuan organisasi. Sekelompok kegiatan yang menjadi fungsi seorang pemimipinatau manager terdiri dari kegiatan menyusun perencanaan (planning) pengorganisasian (organizing), pemberian motifasi atau bimbingan (motivating), pengawasan (controling), dan pengambilan keputusan (deciion making).
8.    Teori pengambilan keputusan. Teori ini berlandaskan adanya berbagai keputusan yang dibuat oleh para pejabat disetiap tingkatan, baik keputusan ditingkat puncak yang memuat ketentuan  pokok atau kebijsanaan umum, keputusan ditingkat menengah yang memuat program-program untuk melaksanakan keputusan administratif, maupun keputusan ditingkat bawah.
9.    Teori kontingensi (teori kepentingan). Teor ini berlandaskan pada pemikiran bahwa pengelolaan organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar apabila pemimpin organisasi mampu memperhatikan dan memecahkan situasi tertentu yang sedang dihadapi dan setiap situasi harus dianalisis sendiri.
Dari semua teori ini, tidak satu pun teori ini dianggap paling lengkap atau paling dianggap baik dan tepat apabila mampu memperhatikan dan menyesuaikan dengan lingkungan dengan memperhitungkan situasi-situasi tertentu.

2.2.4  Struktur Organisasi

1.    Definisi struktur organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit kerja) dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahan dalam menjalin kegiatan oprasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi menunjukan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan. Pekerjaan dibagi, dikelompokan dan dikordinasikan (integrasi) secara formal
2.    Elemen struktur organisasi
Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para menejer ketika hendak mendisain suktur, antara lain:
a.       Spesialis pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi kedalam beberapa pekerjaan tersendiri.
b.      Depaartementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokan pekerjan secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi dan pelanggan.
c.       Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
d.      Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh menejer secara efisien dan efektif.
e.       Sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingakt pengambilan keputusan terkonsentrasi pada suatu titik didalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.
f.        Formalisasi. Sejauh mana peerjaa-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.
3.    Model disain struktur organisasi
a.       Model mekanistik, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementralisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
b.      Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hirarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalakan pengambilan keputusan secara parisifarif.
c.       Model piramid, model ini dibuat prsis sebuah piramida.
d.       Model horizontal. Model ini dibuat dengan menarik garis lurus secara horizontal dengan pembagian fungsional masing-masing bersama tugasnya masing-masing.
Menurut stoner (1996) langkah-langkah dalam proses pengorganisasian terdiri dari lima langkah:
a.       Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi
b.      Membagi beban kerja kedalam kegiatan-kegiatan yang secara logis danmemadaidapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang.
c.       Mengkombinasi pekerjaan anggota prusahaan dengan secara logis dan efisien.
d.      Penetapan mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis.
e.       Memantau efektivitas organisasi dalam mengambil lamgkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.

Perilaku organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia dan pesikolog industri.
Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan disekolah-sekolah bisnis, meskipun banayak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.
Bidang ini sangat berpengaruh dalamdunia bisnis dengan para praktisi seperti peter ducker dan peter senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengar berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikeriktik sebagai suatu bidang studi karena asumi-asumsinya yang etnosentris dan pro-kapitalis (lihat studi manajemen kritis).

2.2.7  Fungsi Pengorganisasian

Fungsi pengorganisaian adalah proses yang menyangkut bagaimana strategidan taktik yang telah dirumusakan dalam perencanaan desain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

2.2.8  Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian

a.     Mengalokasikan sumber daya. Merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan.
b.    Menetapkan struktur organisasi yang menunjukan adanya garis kewenangan dan tanggung jawab.
c.     Kegiatan perekrutan, penyelesaian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja.
d.    Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat.
Tujuan pengorganisan adalah agar dalam pembagian tugas dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan pembagaian tugas diharapkan setiap organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus (spesialisasi) dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Apabila pengorganisasian itu dilakukan secara serampangan, tidak sesuai dengan bidang keahlian seseorang, maka tidak mustahil dapat menimbulkan kegagalan dalam penyelesaian pekerjaan itu.
Tujuan organisasi dapat dirumuskan dan ditetapkan dengan jelas. Hal ini penting karena:
1.    Tanpa tujuan yang jelas organisasi tidak akan mempunyai arah.
2.    Tanpa tujuan jelas, organisasi tida ada artinya dan hanya akan menimbulkan pemborosan belaka.
3.    Tujuan yang jelas akan mempermudah dalam membentuk dan struktur organisasi.
4.    Tujuan yang jelas akan mempermudah dalam menentukan jumlah dan penempatan pegawai.
5.    Tujuan yang jelas akan memberikan perangsang kerja pada para anggota organisasi.
6.    Tujuan yang jelas akan mempermudah pelaksanaan koordinasi, karena mereka menyadari bahwa semua anggota organisasi bekerja ketujaun yang sama, yaitu tujuan organisasi.
7.    Tujuan yang jelas merupakan awal dari penetapan strategi. Siasat, metode, dan prosedur yang akan dipergunakan.
8.     Tujuan yang jelas merupakan dasar dari pada organisasi untuk bergerak.
Tujuan organisasi harus dapat diterima oeh para anggota. Apabila tujuan organisasi itu dapat diterima oleh para anggota, hal ini berarti para anggota organisasi mempunyai keyakinan bahwa tujuan pribadi mereka pun akan dapat tercapai sehingga tujuan mereka dapat dengan mudah digerakan.

2.3.1 Pengertian Pemimpin

Pimpinan adalah sekelompok orang yang menduduki berbagai jabatan pimpinan dalam organisasi yang bertugas untuk memimpin dan mengelola organisasasi agar mencapai tujuanya secara efektif dan efisien.  Jabatan manajerial ini atau seringkali disebut sebagai jabatan struktural memiliki beberapa tingkatan.
Pada umumnya instansi pemerintah di negara kita memiliki lima tingakatan jabatan struktural yang umum, yaitu:
Ø  Jabatan struktural eselon IV, merupakan jabatan manajerial terendah yang bertugas sebagai supervisor yang memimpin satu unit kerja di organisasi setingkat sub-bagian atau seksi.
Ø  Jabatan struktural eselon III, merupakan jabatan manajerial menengah yang bertugas sebagai penyusun program kerja organisasi sesuai dengan bidang atau bagian, dan memimpin satu unit kerja di organisasi setingkat bagian atau bidang.
Ø  Jabatan struktural eselon II, merupakan jabatan manajerial atas  yang bertugas sebagai penyusun rencana stratejik organisasi sesuai dengan sektornya, dan memimpin satu unit kerja di organisasi setingkat dinas, badan, pusat atau biro.
Ø  Jabatan struktural eselon I, merupakan jabatan manajerial puncak  yang bertugas sebagai penyusun rencana jangka panjang organisasi sesuai dengan sektornya, dan memimpin satu unit kerja di organisasi setingkat direktur jenderal, sekretariat jendral, atau deputi Jabatan eselon I hanya ada di Propinsi (sekretaris daerah Propinsi) dan Departemen pusat. 
Dalam melaksanakan kegiatanya, seorang  pemimpin  harus memiliki kompetensi   yang terdiri dari kemampuan manajerial, dan kemampuan teknis operasional. Besaran kemampuan manajerial dan operasional bergantung pada tingkatan eselon atau manajerial pejabat tersebut. Umumnya makin tinggi jabatan eselon maka makin besar tuntutan kemampuan manajerial yang konseptual dan strategis yang harus dimiliki. Sebaliknya, makin rendah eselon yang diduduki, maka makin sedikit kompetensi konseptual dan semakin besar kompetensi teknis operasional. Besaran kompetensi yang harus dimiliki manajer dapat digambarkan sebagai berikut:


 2.3.2 Kompetensi Manajerial dan Strategis

KOMPETENSI  MANAJERIAL  & STRATEGIS
Description: STAF PARIPURNA
KOMPETENSI TEKNIS  OPERASIONAL 
MTA:       Manajer tingkat atas (Eselon II) harus memiliki kompetensi konseptual dan strategis yang paling besar sehingga dapat menentukan arah tujuan organisasi.
MTM:       Manajer tingkat menengah (Eselon III) harus memiliki  kompetensi yang seimbang antara konseptual dan teknis operasional. Tujuannya adalah agar dia mampu menerjemahkan kebijakan yang dikeluarkan MTA dan membuatnya menjadi sesuatu yang operasional bagi MTB.
MTB:       Manajer tingkat bawah (Eselon IV) harus memiliki  kompetensi teknis operasional yang tinggi karena dia akan lebih banyak bekerja dengan staf pelaksana melaksanakan pekerjaan teknis keseharian organisasi.

2.3.3  Tugas Pimpinan

Secara umum, tugas pimpinan adalah:
1.      Menyediakan sumber daya dan menghilangkan hambatan
2.      Memberikan motivasi staf
3.      Sinergi sasaran dan tujuan
4.      Memberdayakan staf
5.      Pendelegasian wewenang
6.      Membagi tugas habis
7.      Mengarahkan staf
8.      Mewakili organisasi pada pertemuan
9.      Menciptakan networking dng instansi/unit kerja lain
10.  Mengembangkan karir staf
11.  Mengambil tanggung jawab
12.  Membimbing staf
13.  Menjelaskan uraian tugas ke pada staf
14.  Melindungi staf
15.  Mengapresiasi, dan memberi penghargaan  staf yang berprestasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Staf didefinisikan sebagai sekelompok orang yg bekerja sama membantu seorang ketua dalam mengelola sesuatu pekerjaan.  Staf diartikan juga sebagai bagian dari organisasi yang tidak mempunyai hak untuk memberikan perintah, namun mempunyai kewajiban untuk membantu pimpinan, memberikan masukan kepada pimpinan.
Siagian (1996) mendefinisikan staf sebagai sekelompok orang bekerjasama membantu seorang Ketua dalam menyelesaikan tugasnya. Kelompok ini  tidak mempunyai hak memberikan perintah, tetapi mempunyai kewajiban membantu pimpinan, memberikan nasehat, solusi, dan sebagainya  Fungsi utama staf adalah membantu tugas  Pimpinan terutama dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

2.3.5  Jenis-Jenis Staf

Staf dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis :
a.    Staf Umum: Sekelompok orang yang  tugasnya membantu pimpinan dalam seluruh aspek adminstrasi secara menyeluruh.
a.    Staf Khusus/Teknis: Staf yang memiliki keahlian khusus atau keahlian teknis tertentu untuk membantu pimpinan dalam pekerjaan teknis tertentu.
b.    Staf Pribadi: Staf yang memberikan bantuan kepada pimpinan untuk urusan bersifat pribadi. Staf pribadi ini umumnya mengurusi keperluan pribadi pimpinan seperti pakaian dinas, penyediaan keperluan pribadi, dan lain-lain.

2.3.6  Syarat Seorang Staf

Agar mampu melaksanakan tugas-tugas pembantuan,  seorang staf harus memenuhi  syarat  syarat sebagai berikut:
1.      Memahami visi dan misi organisasi
2.      Memiliki wawasan yang luas
3.      Berpikir sistemik
4.      Menguasai berbagai tehnik pemecahan masalah
5.      Memiliki human skill yang baik
6.      Memiliki kemampuan teknis di bidangnya
7.      Memiliki etika kerja yang baik
8.      Memiliki integritas

2.3.7 Pengelompokan Staf

Staf juga dapat dikelompokan sebagai berikut :
1.    Staf Penasehat
Staf penasehat ini dibentuk untuk memberikan saran, bantuan dan jasa kepada pimpinan. Agar saran-saran yang diberikan kepada pimpinan merupakan saran yang terbaik, maka sebaiknya saran-saran itu harus diuji melalui suatu proses. Proses-proses tersebut adalah :
1.      Pengumpulan data melalui sebuah riset atau penelitian.
2.      Anallis terhadap fakta-fakta atau informasi yang telah dikumpulkan
3.      Evaluasi dan penilaian.
4.      Membuat berbagai alternative atau kemungkinan.
5.      Pemilihan dari berbagai kemungkinan yang paling baik.
6.      Membuat kesimpulan.
7.      Merumuskan saran-saran atau pertimbangan-pertimbangan dalam suatu bentuk tertentu sehingga mudah dan cepat dipahami oleh pimpinan.
  1. Staf Pelayanan
Fungsi dari staf pelayanan adalah untuk membantu pimpinan dalam melancarkan tugas-tugas organisasi, dalam memberikan pelayanan untuk seluruh lini dan unsur organisasi.
Adapun fungsi utama seorang staf pelayanan adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dalam bentuk kegiatan-kegiatan operasional, bukan memberikan saran atau pertimbangan.

2.3.8 Tugas & peranan staf

Secara umum, tugas seorang staf adalah untuk:
ü  Pengumpulan dan analisis data
ü  Menginterpretasikan data (fakta)
ü  Usulan rekomendasi alternatif tindakan
ü  Sosialisasi kebijakan Pimpinan
ü  Persiapan Rencana dan Pelaksanaannya
ü  Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Operasional
Dalam organisasi ada dua kelompok tenaga kerja atau staf. Kelompok pertama adalah mereka yang tugas utamanya bersifat menterjemahkan tugas pokok menjadi aktivitas, sedang di pihak lain terdapat mereka yang tugasnya melakukan kegiatan-kegiatan penunjang demi lancarnya roda organisasi dan mekanisme kerjasama yang harmonis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kedua kelompok ini mempunyai peranan penting dalam merealisasi tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Kedua macam staf ini mempunyai peran sama penting, kelompok pertama melaksanakan aktivitas penting untuk merealisasi tujuan, sedangkan kelompok yang kedua berperan dalam menciptakan efektivitas dan efisiensi. Sinergi keduanya  membuat organisasi dapat mendayagunakan resources yang dimiliki organisasi secara optimum

2.4      Pengawasan / Controlling

2.4.1 Definisi Pengawasan

      George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
      Robbin (dalam Sugandha, 1999:150) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.
      Kertonegoro (1998:163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melalui manajer berusaha memperoleh keyakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaannya.
Terry (dalam Sujamto, 1986:17) menyatakan pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tindakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana.
Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
Admosudirdjo (dakam Febriani, 2005:11) mengatakan bahwa pada pokoknya pengawasan adalah keseluruhan dari pada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sagian (1990:107) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Kesimpulannya, Pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaa, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperluka

2.4.2  Syarat-Syarat Pengawasan

Syarat – syarat pengawasan antara lain :
1.    Pengawasan harus mendukung sifat dan kebutuhan kegiatan
2.    Pengawasan harus melaporkan setiap penyimpangan yang terjadi
3.    Pengawasan harus mempunyai pandangan ke depan
4.    Pengawasan harus objektif, teliti, dan sesuai dengan standar
5.    Pengawasan harus luwes atau fleksibel
6.    Pengawasan harus serasi dengan pola organisasi
7.    Pengawasan harus ekonomis
8.    Pengawasan harus mudah di mengerti
9.    Pengawasan harus diikuti dengan perbaikan atau koreksi

2.4.3 Perancangan Proses Pengawasan

Lima langkah dasar yang dapat diterapkan untuk semua tipe kegiatan pengawasan menurut william H. Newman yaitu :
  1. Merumuskan hasil yang diinginkan
  2. Menetapkan penunjuk hasil
  3. Menetapkan standar penunjuk dan hasil
  4. Menetapkan jaringan informasi dan umpan balik.
  5. Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi

2.4.4  Karakteristik Pengawasan Yang Efektif

1.    Akurat
2.    Tepat waktu
3.    Objektif dan menyeluruh
4.    Terpusat pada titik-titik pengawasan strategik
5.    Realistik secara ekonomi
6.    Realistik secara organisasional
7.    Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi
8.    Fleksibel
9.    Bersifat sebagai petunjuk dan operasional
10.     Diterima para anggota organisasi
1.      Metode bukan kuantitatif (non quantitative)
Yaitu metode-metode pengawasan yang digunakan manajer dalam pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen. Pada umumnya, mengawasi keseluruhan (overall) “performance” organisasi. Dan sebagian besar mengawasi sikap dan “performance” para karyawan.
2.      Metode kuantitatif
Cenderung untuk menggunakan data khusus dan metode-metode kuantitatif untuk mengukur dan memeriksa kuantitas dan kualitas keluaran (output).





2.4.6  Pentingnya Pengawasan

     Suatu organisasi akan berjalan terus dan semakin komplek dari waktu ke waktu, banyaknya orang yang berbuat kesalahan dan guna mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi.
Ada beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya :
1.      Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku dan sebagainya. Melalui fungsi pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi.
2.      Peningkatkan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, semakin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya akan memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.
3.      Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasa. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4.      Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menentukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem pengawasan.
5.      Komunikasi.
6.      Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.

2. 4.7 Bentuk-Bentuk Pengawasan

1. Pengawasan pendahuluan (feeforward control, steering controls, preliminary).
Dirancang untuk mengantisipasi penyimpangan standar dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum kegiatan terselesaikan. Pengawasan ini akan efektif bila manajer dapat menemukan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang perubahan yang terjadi atau perkembangan tujuan.
2. Pengawasan concurrent (concurrent control)
Yaitu pengawasan “Ya-Tidak”, atau pengawasan yang terjadi ketika pelaksanaan berlangsung, dimana suatu aspek harus memenuhi syarat yang ditentukan sebelum kegiatan dilakukan guna menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
3. Pengawasan umpan balik (feedback control, past-action controls)
Yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksanakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai.

2.4.8  Tahap-Tahap Pengawasan

1.  Tahap penetapan standar
Tujuannya adalah sebagai sasaran, kuota, dan target pelaksanaan kegiatan yang digunakan sebagai patokan dalam pengambilan keputusan.
2. Tahap penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Digunakan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tepat.
3. Tahap pengukuran pelaksanaan kegiatan
Beberapa proses yang berulang-ulang dan kontinue, yang berupa atas, pengamatan, laporan, metode, pengujian, dan sampel.
4. Tahap pembandingan pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan.
Digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya peyimpangan dan menganalisanya mengapa bisa terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat pengambilan keputusan bagai manajer.
5.      Tahap pengambilan tindakan koreksi
Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi peyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan

2.4.9  Jenis-Jenis Pengawasan

1.  Pengawasan Intern dan Ekstern
Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.
Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi.
2.  Pengawasan Preventif dan Represif
Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai, “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya peyimpangan.
pengawasan represif adalah “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan.”
3.  Pengawasan Aktif dan Pasif
Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan.
Pengawasan jauh (pasif) dilakukan sebagai bentuk penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggung jawaban yang disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran.

2.4.10  Alat Bantu Pengawasan

1.      Manajemen pengecualian (management by exception)
Manajemen pengecualian adalah teknik pengawasan yang memungkinkan hanya penyimpangan kecil antara yang direncanakan dan kinerja aktual yang mendapatkan perhatian dari wirausahawan. Manajemen pengecualian di dasarkan pada prinsip pengecualian, prinsip manajemen yang muncul paling awal pada literatur manajemen. Prinsip pengecualian menyatakan bahwa bawahan menangani semua persoalan rutin organisasional, sementara wirausahawan menangani persoalan organisasional non rutin atau diluar kebiasaan.
2.      Management Information System (MIS)
MIS yaitu suatu metode informal pengadaan dan penyediaan bagi manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu untuk membantu proses pembuatan keputusan dan memungkinkan fungsi-fungsi perencanaan, pengawasan dan operasional organisasi yang dilaksanakan secara efektif.
MIS dirancang melalui beberapa tahap utama yaitu :
*      Tahap survei pendahuluan dan perumusan masalah
*      Tahap desain konseptual
*      Tahap desain terperinci
*      Tahap implementasi akhir
Kriteria agar MIS berjalan efektif, yaitu :
o   Mengikutsertakan pemakai dalam tim perancangan
o   Mempertimbangkan secara hati-hati biaya system
o   Memperlakukan informasi yang relevan dan terseleksi
o   Adanya pengujian pendahuluan
o   Menyediakan latihan dokumentasi tertulis bagi para operator dan pemakai sistem.
Kriteria utama MIS efektif yaitu :
Ø  Pengawasan terhadap kegiatan yang benar
Ø  Tepat waktu dalam pemakaiannya
Ø  Menekan biaya secara efektif
Ø  System yang digunakan harus tepat dan akurat
Ø  Dapat diterima oleh yang bersangkutan
3.      Analisa Rasio
Rasio adalah hubungan antara dua angka yang dihitung dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.
4.      Penganggaran
Anggaran dalam organisasi adalah rencana keuangan yang menguraikan bagaimana dana pada periode waktu tertentu akan dibelanjakan maupun bagaimana dana tersebut akan diperoleh. Anggaran juga merupakan laporan resmi mengenai sumber-sumber keuangan yang telah disediakan untuk membiayai pelaksanaan aktivitas tertentu dalam kurun waktu yang ditetapkan. Disamping sebagai rencana keuangan, anggaran juga merupakan alat pengawasan.

2.4.11     Manfaat Pengawasan

1.    Untuk memberikan ruang regular untuk superviesees untuk merenungkan isi dan pekerjaan mereka
2.    Untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam bekerja
3.    Untuk menerima informasi dan perspektif lain mengenai pekerjaan seseorang
4.    Untuk menjadi dukungan baik segi pribadi ataupun pekerjaan
5.    Untuk memastikan bahwa sebagai pribadi dan sebagai orang pekerja tidak dtinggalkan tidak perlu membawa kesulitan, masalah dan proyeksi saja
6.    Untuk memiliki ruang untuk mengesplorasi dan mengekspresikan distress, restimulation pribadi, transferensi atau counter-transferensi yang mungkin dibawa oleh pekerjaan
7.    Untuk merencanakan dan memanfaatkan sumberdaya pribadi dan profesional yang lebih baik
8.    Untuk menjadi pro-aktif bukan re-aktif
9.    Untuk memastikan kualitas pekerjaan

2.5 Kepemimpinan

2.5.1  Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal. Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.
Kepemimpinan dapat dijelaskan atau diuraikan dalam berbagai macam, hal ini tergantung dari sudut mana kita melihat atau menangkap makna-makna dari kepemimpinan itu sendiri. Wasty Soemanto menjelaskan “pemimpin adalah orang yang membuat rencana, berpikir dan mengambil tanggung jawab untuk kelompok serta memberikan arahan kepada orang lain.” Sementara Abu Ahmadi. menyebutkan bahwa “kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarah dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari kelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.”
      Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya.
      Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin.
      Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
      Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati.
Berdasarkan definisi tersebut, ada tiga implikasi penting mengenai kepemimpinan :
1. Kepemimpinan menyangkut orang lain dalam arti ada bawahan atau pengikut.
2. Kepemimpinan itu menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara pada pemimpin dan anggota kelompok.
3. Pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh dalam arti mempengaruhi bagaiman bawahan melaksanakan perintahnya.

2.5.2  Tipe-Tipe Kepemimpinan

Berdasarkan konsep, sifat, sikap dan cara-cara pemimpin melaksanakan dan mengembangkan kegiatan memimpin dalam lingkungan kerja yang dipimpinnya, maka tipe/ gaya kepemimpinan dapat diklarifikasikan kedalam tiga tipe pokok kepemimpinan, yaitu otokratik, laissez faire dan demokratik. Ketiga tipe tersebut sebagaimana telah dikemukakan oleh para ahli seperti Hadari Nawawi menyebutkan “ada tiga tipe kepemimpinan yaitu otokratif, laissez faire dan demikratik.” Sementara itu Susilo Martoyo menyebutkan ada 6 tipe kepemimpinan, yaitu Tipe pribadi, didasarkan pada kontak pribadi secara langsung dengan bawahannya
Yaitu :
1. Tipe non pribadi, kurang adadnya kontak pribadi dengan bawahannya, karena diantara mereka ada sarana atau media tertentu seperti rencana-rencana, intruksi-intruksi, sumpah-sumpah, sehingga hubungan tersebut bersifat tidak langsung.
2. Tipe otoriter kepemimpinan merupakan hak pribadi dan berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa saja dalam organisasi. .
3. Tipe demokratis, menitik beratkan kepada partisipasi kelompok dengan memanfaatkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat kelompok
4. Tipe paternalistis, cenderung terlalu “kebapakan“sehingga sangat memikirkan keinginan dan kesejahteraan anak buahnya, terlalu melindungi dan membimbing.
5. Tipe indegenous, timbul dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan yang bersifat informal, seperti perkumpulan-perkumpulan sepak bola, sekolah dan sebagainya, dimana interaksi antara orang seorang dalam organisasi tersebut ditentukan oleh sifat dan pembawaan pemimpin.
6. Tipe demokratis, menitik beratkan kepada partisipasi kelompok dengan memanfaatkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat kelompok.

2.5.3  Ciri-ciri Kepemimpinan

Keberhasilan suatu organisasi lebih banyak ditentukan oleh prilaku dari seseorang pemimpin, sehingga kita harus tau kemampuan apa yang sebenarnya harus dimiliki oleh seseorang pemimpin.
Hadari Nawawi menyebutkan ada beberapa persyaratan umum yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu: 
1.         Memiliki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik.
2.         Percaya pada diri sendiri
3.         Cakap bergaul dan ramah tamah.
4.         Kreatif, penuh inisiatif, dan memiliki hasrat, kemauan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.
5.         Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa.
6.         Memiliki keahlian atau keterampilan dalam bidangnya.
7.         Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekwen dan bijaksana. 
8.         Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.
9.         Berani mengambil keputusan dan tanggung jawab.
10.     Jujur, rendah hati, sederhana, dan dapat dipercaya.
Persyaratan-persyaratan untuk kepemimpinan adalah sama, baik pimpinan organisasi maupun swasta, baik yang dibentuk maupun yang lahir secara keturunan termasuk juga persyaratan pemimpin dalam pendidikan, seperti kepala sekolah. Kalau kita memperhatikan persyaratan-persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin, rasanya cukup sulit untuk mendapatkan seorang pemimpin yang mempunyai kriteria tersebut. Namun demikian kita harus berusaha kearah itu agar pemimpin masa depan dapat memimpin dengan sebaik-baiknya.

2.5.4  Tugas Kepemimpinan

Kepemimpinan pada hakekatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang itu membina, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain agar dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan, maka seseorang pemimpin harus dapat bekerja dengan baik, sehingga ia harus tau secara mendalam tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Secara umum tugas seorang pemimpin hampir sama pada setiap unit satuan organisasi, termasuk juga dalam kepemimpinan pendidikan, berikut ini ada lima tugas pokok yang harus dilakukan oleh kepemimpinan pendidikan sebagaimana dijelaskan oleh Wasty Soemanto sebagai berikut:
1. Membantu masyarakat sekolah serta merumuskan tujuan-tujuan pendidikan
2. Memperlancar proses belajar dengan mengembangkan pegajaran yang lebih efektif.
3. Membentuk / membangun suatu unit organisasi yang produktif.
4. Menciptakan iklim, dimana kepemimpinan pendidikan dapat tumbuh dan berkembang.
5. Memberikan sumber-sumber yang memadai untuk pengajaran yang efektif.
Disamping itu seorang pemimpin harus mengetahui secara menyeluruh tentang organisasi yang dipimpinnya. Sebagai contoh disekolah kepala sekolah harus mampu menumbuhkan efektifitas kepemimpinan yang efektif dan efisien mengetahui tentang kondisi dan situasi sekolah yang di pimpinnya, demikian juga kepala sekolah harus mengerjakan semua tugas yang ada disekolah serta mampu mengembangkan diri sehingga timbul semangat kerja yang diharapkan.
Seorang pemimpin pendidikan harus memahami langkah-langkah kepemimpinan yang dirumuskan oleh departemen pendidikan seperti :
1. Tahu tugas pokoknya sendiri
2. Tahu jumlah pembantunya
3. Tahu nama-nama pembantunya.
4. Tahu tugas masing-masing pembantunya
5. Memperhatikan kehadiran tugas pembantunya.
6. Memperhatikan peralatan pembantunya
7. Menilai pembantunya.
8. Mengambil tindakan-tindakan
9. Memperhatikan karir pembantunya
10. Memperhatikan kesejahteraan pembantunya
11. Menciptakan suasana kekeluargaan
12. Memberikan laporan-laporan kepada atasannya
. Tugas-tugas tersebut diatas merupakan kewajiban yang sangat penting untuk menumbuhkan keefektifan kepemimpinan pendidikan yang efektif dan efisien.







Menurut James A.F Stonen
      Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.
      Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan
      Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.
      Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.
      Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah)
      Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya.
      Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
       
Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :

  1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
  2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
  3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.

2.5.5  Pandangan Kepemimpinan

  • Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
  • Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
  • Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi yang positif, seperti ;
  • Percaya pada orang lain
Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
  • Keseimbangan dalam kehidupan
Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.

  • Melihat kehidupan sebagai tantangan
Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
  • Sinergi
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman sekerja.
  • Latihan mengembangkan diri sendiri
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses.

Proses daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan: 
  • Pemahaman materi; 
  • Memperluas materi melalui belajar dan pengalaman
  • Mengajar materi kepada orang lain; 
  • Mengaplikasikan prinsip-prinsip; 
  • Memonitoring hasil; 
  • Merefleksikan kepada hasil; 
  • Menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi; 
  • Pemahaman baru; dan 
  • Kembali menjadi diri sendiri lagi.

Mencapai kepemimpinan yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya: 
  1. Kemauan dan keinginan sepihak;
  2. Kebanggaan dan penolakan; dan 
  3. Ambisi pribadi. 

2.5.6  Kepemimpinan memerlukan modal dasar

a. Organisasi :
Mengapa organisasi yang dipimpinnya ini ada dan untuk apa ? Jawaban ter-hadap pertanyaan yang sangat mendasar ini perlu dikuasai secara baik oleh semua orang yang memegang tampuk kepemimpinan dari suatu organisasi. Tanpa menguasai jawabannya secara baik diragukan apakah mereka akan mampu mengarahkan orang-orang lain dalam organisasi itu ke tujuan yang seharusnya.
b. V i s i :
Akan menjadi organisasi yang bagaimanakah organisasi itu di masa depan ? Orang-orang yang memegang kepemimpinan perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang organi-sasinya; mereka ingin mengembangkan organisasinya itu menjadi organisasi yang bagaimana, yang mampu berfungsi apa dan bagaimana, yang mampu memproduksi benda dan jasa apa dan yang bagaimana, serta untuk dapat disajikan kepada siapa ? Visi ini seharusnya berjangka panjang, misalnya 10 tahun atau 25 tahun ke dapan, agar dapat memfasilitasi usaha-usaha perbaikan mutu kinerja yang berkelanjutan.
c. M i s i :
Mengapa kita ada dalam organisasi ini ? Apa tugas yang harus kita lakukan ? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan visi tersebut di atas. Bagaimana visi itu akan dapat diwujudkan ? Tugas-tugas pokok apakah yang harus dilakukan oleh organisasi agar visi atau kondisi masa depan organisasi tadi dapat diwujudkan. Rumusan tentang misi organisasi ini juga seharusnya dapat dikuasai dengan baik dan jelas oleh orang-orang yang memegang kepemimpinan agar mereka dapat memberi arahan yang benar dan jelas kepada orang-orang lain.
d. Nilai-nilai
Prinsip-prinsip apa yang diyakini sebagai kebenaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam menjalankan tugas organisasi, dan ingin agar orang lain dalam organisasi juga mengadopsi prinsip-prinsip tersebut. Misalnya mutu, fokus pada pelanggan, disiplin, kepelayanan adalah nilai-nilai yang seharusnya dianut oleh orang-orang yang memegang kepemimpinan MMT.
e. Kebijakan
Ialah rumusan-rumusan yang akan disampaikan kepada orang-orang dalam organisasi sebagai arahan agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan dalam menyediakan pelayanan dan barang kepada para pelanggan. Orang-orang yang memegang kepemim-pinan harus mampu merumuskan kebijakan-kebijakan semacam itu agar orang-orang dapat menyajikan mutu seperti yang diinginkan oleh organisasi.
f. Tujuan-tujuan Organisasi
Ialah hal-hal yang perlu dicapai oleh organisasi dalam jangka panjang dan jangka pendek agar memungkinkan orang-orang dalam organisasi memenuhi misinya dan mewujudkan visi mereka. Tujuan-tujuan organisasi itu perlu dirumuskan secara kongkrit dan jelas.
g. Metodologi :
Adalah rumusan tentang cara-cara yang dipilih secara garis besar dalam bertindak menuju pewujudan visi dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Metodologi ini terbatas pada garis-garis besar yang perlu dilakukan dan bukan detil-detil teknik kerja.
Ketujuh hal yang sangat mendasar itu perlu dikuasai dan dalam implementasi MMT hal itu akan dituangkan dalam merumuskan rencana strategis untuk mutu. Tanpa kemampuan merumuskan ketujuh hal itu secara spesifik dan mengkomunikasikannya kepada orang-orang dalam organisasi, sulit bagi orang-orang itu untuk mewujudkan mutu seperti yang diinginkan.


2.5.7  Kepemimpinan Manajemen


a.       Kepemimpinan Manajemen tidak selalu membuat keputusan sendiri dalam segala hal, tetapi hanya melakukannya dalam hal-hal yang akan lebih baik kalau dia yang memutuskannya.
b.      Seorang pimpinan Manajemen selalu mendambakan pembaharuan, sebab dia tahu bahwa hanya dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang lebih baik. Oleh karena itu dia harus selalu mendorong semua orang dalam organisasinya untuk berani melakukan inovasi-inovasi, baik itu menyangkut cara kerja maupun barang dan jasa yang dihasilkan.
c.       Pemimpin Manajemen selalu bertindak proaktif yang bersifat preventif dan an-tisipatif.Pemimpin Manajemen tidak hanya bertindak reaktif yang mulai mengambil tindakan bila su-dah terjadi masalah. Pimpinan yang proaktif selalu bertindak untuk mencegah munculnya masa-lah dan kesulitan di masa yang akan datang. Setiap rencana tindakan sudah difikirkan akibat dan konsekuensi yang bakal muncul, dan kemudian difikirkan bagaimana cara untuk mengeliminasi hal-hal yang bersifat negatif atau sekurang berusaha meminimalkannya.
d.      Pimpinan dalam Manajemen dianjurkan melakukan pem-bandingan dengan organisasi lain, membandingkan mutu organisasinya dengan mutu organisasi lain yang sejenis. Kegiatan ini disebut benchmarking. Pimpinan Manajemen selalu berusaha menya-mai mutu kinerja organisasi lain dan kalau bisa bahkan berusaha melampaui mutu organisasi lain. Bila pimpinan berbicara tentang mutu organisasi lain dan kemudian ingin menyamai atau melebihi mutu organisasi lain itu, berarti pmpinan itu berbicara tentang persaingan.
e.       Pemimpin Manajemen tidak berusaha memusatkan kepemimpinan pada dirinya, tetapi akan menyebarkan kepemimpinan itu pada orang-orang lain, dan hanya me-nyisakan pada dirinya yang memang harus dipegang oleh seorang pimpinan. Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah pengambilan keputusan dan pengaruh pada orang lain. Bersifat operasional atau bersifat teknis disebarkan kepada orang-orang lain sesuai dengan kedudukan dan tugasnya.

2.5.8  Cara berpikir pimpinan tentang mutu


1. Perbaikan mutu menghemat waktu dan uang.
Cara berfikir semacam itu berbeda dengan cara berfikir konvensional yang biasa mengatakan bahwa perbaikan mutu selalu memerlukan uang dan waktu. MMT diterapkan untuk jangka panjang, dan perbaikan mutu tidak untuk sesaat tetapi untuk seterusnya dan selamanya. Perbaikan mutu pada awalnya mungkin memerlukan dana, tetapi tidak selalu harus demikian, sebab untuk mencapai mutu yang lebih baik mungkin diperlukan pelatihan bagi orang-orang tertentu, atau memerlukan perbaikan peralatan dan fasilitas kerja, meski inipin tidak selalu harus demikian. Sesudah investasi awal itu kemudian tidak diperlukan lagi penge-luaran ekstra, bahkan dalam jangka yang agak panjang perbaikan mutu itu malah akan menghasilkan penghematan uang dan waktu. Tujuan utama diterapkannya MMT selain memuaskan pelanggan adalah efisiensi. Ini berarti penghematan dari cara-cara sebelumnya, atau bekerja dengan biaya lebih rendah tetapi dengan hasil yang lebih baik.
2. Pekerjaan adalah sistem terpadu dari beberapa proses.
Persepsi semacam ini jelas sangat berbeda dengan cara berfikir kovensional yang melihat pekerjaan tidak sebagai suatu sistem yang terpadu tetapi sebagai rangkaian peristiwa. Jika orang melihat pekerjaan sebagai suatu sistem yang terpadu berarti masih tetap mengakui adanya bagian-bagian dari pekerjaan yang terpisah, namun bagian-bagian itu tetap berkaitan satu dengan lainnya dan memiliki hubungan saling mempengaruhi dan saling bergantung (interdependent). Perguruan tinggi memiliki bagian-bagian atau unit-unit, memiliki banyak jenis pekerjaan dan kegiatan, serta memiliki banyak orang yang bekerja di dalam-nya. Jelas mereka tidak cukup hanya dengan bekerja sendiri-sendiri secara terpisah, tetapi mereka harus bekerjasama, berinteraksi satu sama lain, tolong menolong, saling melayani, sebab hasil akhir dari perguruan tinggi itu adalah totalitas dari pekerjaan semua bagian dan semua orang itu. 
Bahkan mutu pekerjaan satu bagian sering sangat tergantung pada mutu pekerjaan bagian lain yang merupakan masukan bagi bagian yang pertama. Jadi agar suatu perguruan tinggi bermutu, semua bagian, semua fungsi dan semua pekerjaan perlu diupayakan agar bermutu sebagai satu sistem. Tidak cukup bila hanya salah satu atau beberapa bagian saja yang bermutu. Namun dalam implementasinya bila tidak mungkin meningkatkan semua jenis pekerjaan secara simultan, maka bisa ditempuh cara bertahap, yang dengan cermat dipilih jenis-jenis pekerjaan mana yang secara strategis perlu ditingkatkan mutunya lebih dahulu.
3. Pekerjaan betapapun besar dan banyaknya bila tanpa kualitas tidak ada artinya.
Ini berarti bahwa kualitas atau mutu pekerjaan lebih penting dari kuantitas atau jumlah. Dalam dunia pendidikan hal itu jelas sekali. Suatu perguruan tinggi memiliki banyak dosen dan mahasiswa tetapi yang pada umumnya tidak bermutu sebenarnya tidak banyak artinya bagi perguruan yang mendambakan perguruan yang bermutu. Pendidikan yang tidak bermutu betapapun banyaknya lulusan yang dikeluarkan kiranya tidak ada artinya bagi kemajuan suatu bangsa dan negara.
4.      Mutu menyatu dengan cara kerja dari awal.
Mutu hasil kinerja yang berupa barang atau jasa adalah hasil dari cara kerja yang diterapkan dalam pekerjaan. Oleh karena itu cara kerja yang berupa prosedur dan proses kerja menjadi sangat penting untuk menghasilkan kinerja yang bermutu. Prosedur dan proses kerja sejak awal hingga akhir perlu dirancang dan ditentukan sedemikian rupa hingga menjamin tercapainya mutu kinerja yang baik seperti yang diinginkan untuk dapat memu-askan semau pelanggannya. Mutu barang atau jasa bukan sekedar hasil dari pemeriksaan pada akhir proses kerja, melainkan menyatu dengan cara kerja dari awal hingga akhir.
5. Mutu dapat dicapai melalui pelatihan yang lebih baik bagi karyawan yang telah ada plus kepemimpinan yang bermutu.
Salah satu kunci penting untuk keberhasilan meningkatkan mutu secara berkelanjutan adalah pelatihan yang relevan dan efektif. Semua karyawan dapat diharapkan meningkatkan mutu kinerjanya bila telah mendapatkan pelatihan yang tepat, demikian pula semua pemimpin dapat memimpin penyelenggaraan MMT dengan berhasil bila mendapatkan pelatihan un-tuk itu. Cara berfikir semacam itu berbeda dengan cara berfikir konvensional yang mengatakan bah-wa untuk mendapatkan mutu perlu (perekrutan) karyawan yang lebih baik.
6. Mutu yang cukup hanyalah bila semua pekerjaan menghasilkan yang terbaik.
Mutu se-macam itu memang tidak mungkin dicapai dengan sekali usaha tetapi melalui usaha yang terus menerus yang setiap kali diusahakan bisa mencapai perbaikan sedikit demi sedikit, yang dalam jangka yang agak panjang akan bisa mencapai mutu yang sempurna. Inipun pada waktunya dapat disempurnakan lagi sehingga sebenarnya usaha perbaikan mutu tidak pernah ada akhirnya. Mutu memang tidak berbatas, selalu dapat ditingkatkan. Pimpinan konvensionalberfikir kalau 90% peker-jaan sudah baik adalah sudah cukup. Di bidang pendidikan dan akademis standar mutu itu jelas selalu bergerak ke atas dan harus selalu dikejar. Jadi jangan pernah berhenti berusaha meningkatkan mutu kinerja.
7. Mutu berarti perbaikan yang berkelanjutan.
Ini adalah cara berfikir sebagai kelanjutan dan konsekuensi pemikiran tersebut pada butir ke-6 di atas. Ini berbeda dengan konsep management by objective yang mengartikan mutu sebagai pencapaian tujuan yang ditentukan sebelumnya. Kedua cara berfikir itu tidak perlu dianggap berbeda bila pekerjaan dibagi-bagi menjadi beberapa tahapan dan untuk setiap tahap ditentukan tujuannya yang selalu meningkat dari awal sampai akhir.
8. Para pemasok adalah mitra kerja.
Pekerjaan dalam suatu organisasi selalu bersifat mengolah atau memroses masukan (barang, jasa dan/atau orang) yang dipasok oleh orang lain. Mutu kinerja organisasi itu dipengaruhi oleh mutu masukannya. Kalau organisasi itu memperlakukan para pemasok sebagai mitra kerjanya, ia dapat mengharap mendapatkan mutu pasokan (masukan) yang baik. Sebaliknya bila pemasok itu diperlakukan sebagai pesaingnya atau lawan usahanya, maka para pemasok itu sulit diharapkan mau memasok masukan yang bermutu. Jadi tidak benar bahwa mutu kinerja itu tidak ada kaitannya dengan pemasok. Dalam bidang pendidikan tinggi, mahasiswa adalah masukan yang dipasok oleh lembaga-lembaga pendidikan menengah. Sudahkah perguruan tinggi memperlakukan sekolah-sekolah menengah itu sebagai mitra kerjanya?
9. Pelanggan adalah bagian integral dari organisasi.
Mengapa demikian ? Karena sejak awal pekerjaan organisasi itu direncanakan antara lain dengan mempertimbangkan kebutuhan-kebu-tuhan dan harapan-harapan pelanggan. Jadi para pelanggan (eksternal) itu sejak awal diharapkan memberi masukan kepada organisasi, dan karena itulah mereka dikatakan merupakan bagian integral dari organisasi. Tanpa memper-timbangkan kebutuhan dan harapan para pelanggan, tidak pernah diketahui apakah hasil kerja itu akan bisa memuaskan pelanggan atau tidak. Jadi agar organisasi dapat merencanakan kerja yang bermutu perlu para pimpinan organisasi itu melihat para pelanggan sebagai bagian integral dari organisasi, dan bukan sebagai orang-orang luar yang akan ditawari produk kerja organisasi.
Cara berfikir seperti digambarkan pada sembilan butir di atas sangat perlu untuk diadopsi oleh para pimpinan yang organisasinya menerapkan Manajemen untuk selalu bisa menggerakkan orang-orang dan organisasinya meningkatkan mutu kerjanya secara berkelanjutan. Cara berfikir tentang mutu semacam itu akan menjadi bagian dari kepribadian pemimpin yang mendambakan mutu.






BAB III

 PENUTUP

3.1      Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah hal terpenting dalam menejemen apalagi dalam era globalisasi ini dan pastinya digunakan sebagai senjata menghadapi eksternal lingkungan. Dalam perencanaan terdiri dari macam-macam perencanaan, yaitu perencanaan organisasi dan perencanaan kontijensi. Pengertian organisasi dapat diartikan menjadi dua arti yaitu, dalam arti dinamis disebut pengorganisasian dan dalam arti statis disebut organisasi. Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang, ada kerjasama dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetap saling kait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh. Keberhasialan atau kegagalan organisasi pasti berhubungn dengan peran para anggotanya. Suatu keberhasilan dapat dicapai bila ada kerjasama yang baik antar para anggotanya. Sedangkan kegagalan dapat disebabkan karena adanya factor internal pengorganisasian tersebut yang bersifat negative. Staf didefinisikan sebagai sekelompok orang yg bekerja sama membantu seorang ketua dalam mengelola sesuatu pekerjaan.  Staf diartikan juga sebagai bagian dari organisasi yang tidak mempunyai hak untuk memberikan perintah, namun mempunyai kewajiban. Pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu Mempengaruhi perilaku orang lain. Kepe-mimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang memimpinnya
.
3.2   Saran
Perencanaan yang baik akan menghasilkan menejemen yang baik.Sebaiknya dalam mengambil keputusan dan tindakan dalam berbagai bentuk organisasi menggunakan proses dasar manajemen berupa perencanaan.Dalam sebuah prencanaan perlu memperhatikan sifat rencana yang baik untuk mencapai hasil yang diinginkan. Menginat pentingnya pengorganisasian mak perlu kiranya masalah ini diperhatikan dan dipahami sebaik-baiknya. Setelah memahami pengorganisasian maka sebaiknya diterapkan dalam aktual di lapangan. Dan untuk para pemimpin sebaiknya harus mengetahui semua hal yang menyangkut tentang organisasi baik secara individu maupun kelompok. Agar suatu organisasi berhasil para anggotanya harus saling bekerja sama dengan baik dan menjaga kebersamaan agar apabila terjadi masalah dapat diselesaikan dengan baik-baik tanpa harus mengganggu proses organisasi. Pengawasan dirasa sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi. Karena jika tidak ada pengawasan dalam suatu organisasi akan menimbulkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi baik yang berasal dari bawahan maupun lingkungan. Pengawasan menjadi sangat dibutuhkan karena dapat membangun suatu komunikasi yang baik antara pemimpin organisasi dengan anggota organisasi. Serta pengawasan dapat memicu terjadinya tindak pengoreksian yang tepat dalam merumuskan suatu masalah. Pengawasan lebih baik dilakukan secara langsung oleh pemimpin organisasi. Disebabkan perlu adanya hak dan wewenang ketegasan seorang pemimpin dalam suatu organisasi. Pengawasan disarankan dilakukan secara rutin karena dapat merubah suatu lingkungan organisasi dari yang baik menjadi baik lagi. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan pada prinsip-prinsip belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan dan membawa energi positif. Maka untuk menjadi seorang pemimpin haruslah mempunyai pengetahuan dan jiwa pemimpin

Arief, Bowo. 2008. perencanaan. Fakultas Ekonomi. Universitas Mercu Buana: Jakarta.
Hani, Handoko. 2003. Manajemen. Edisi kedua. Cetakan kedelapan belas. Yogyakarta:  BPFE-Yogyakarta.
Kardaman. 1996. Pengantar IlmuManajemen. Jakarta: Gramedia.
Purwanto, Yadi. 2001. Manajemen Organisasi. Jakarta: PT. Cendikia Informatika. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008
http://minime1450.blogspot.com/2012/03/peranan-staf-dalam-organisasi.html[29/11/2013
Siagian, Sondang P., Peranan Staf Dalam Manajemen, Jakarta, PT Gunung Agung, 1996
http://selisubekti.blogspot.co.id/2014/11/contoh-makalah-pengawasancontrolling.html James K. Van Fleet, 1973, 22 Manajemen Kepemimpinan, Jakarta:Mitra Usaha
Purwanto, Yadi, 2001, makalah: Manajemen PT. Cendekia Informatika, Jakarta
http://artikelrande.blogspot.com/2010/07/manajemen-kepemimpinan_6811.html
W. Brown steven, 1998, Manajemen Kepemipinan, Jakarta: Profesional Books